Sabtu, 24 Mei 2014

Ketika Kepekaan Sosial "Tertidur", Bangunkan Saja Dengan Tulisan

Akhir-akhir ini, zaman semakin “menggila”. Sehingga menimbulkan dampak di pelbagai bidang. Di mana dampak ini berpengaruh pada pola pikir dan pola tindak manusia. Kini pola pikir dan pola tindak manusia mengalami perubahan yang sangat memprihatinkan. Dahulu kehidupan bermasyarakat manusia sangat menjunjung tinggi norma dan adat istiadat -seperti menghormati satu sama lain dan bertoleransi terhadap sesama, namun kini seolah luntur perlahan-lahan seiring dinamika waktu.
Selain itu, dampak perubahan zaman ini juga berpengaruh pada pola pikir dan pola tindak lainnya yaitu kepekaan sosial yang dimiliki oleh setiap orang. Menilik pada kepekaan sosial, ini sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Karena dengan adanya kepekaan ini, mereka dapat tanggap dan tahu benar dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Di samping itu, ini dapat mempererat hubungan sosial antar sesama. Semisal gotong royong yang dilakukan warga dalam bekerja bakti, yang mana menunjukkan rasa kepedulian, yaitu hasil dari rasa peka terhadap lingkungan untuk saling membantu. Namun, kepekaan sosial kini semakin memudar seiring perubahan zaman. Banyak faktor pemicu, seperti kemajuan teknologi yang semakin canggih dewasa ini yang terjadi di kalangan remaja. Padahal dari kalangan remaja inilah, diharapkan banyak perubahan positif yang terjadi dari hasil pengamatan di lingkungan mereka.
Dengan kemunculan fenomena lesunya kepekaan sosial ini, khususnya di kalangan remaja, pasti membuat rindu bagi orang-orang yang menginginkan rasa kepedulian bersama. Maka dari itu, dalam esai ini penulis akan mendiskusikan tentang bagaimana membangun kepekaan sosial di kalangan remaja terhadap lingkungan sekitar.
Mengikuti perkembangan zaman memang merupakan hal yang lumrah untuk dilakukan saat ini, agar tidak tertinggal oleh perubahan keadaan yang begitu cepat. Karena detik ini pasti akan berbeda dengan detik berikutnya. Hal ini menyebabkan banyak orang khususnya remaja, berlomba-lomba untuk dapat lebih ‘up to date’. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa apa yang mereka nikmati dari hasil kemajuan zaman, seperti kecanggihan teknologi, dapat menyebabkan kepekaan sosial mereka lesu.
Dalam kehidupan sehari-hari, masalah kepekaan sosial merupakan penyakit masyarakat yang menyebabkan berkurangnya rasa kepedulian terhadap lingkungan. Bahkan remaja sekarang ini, tidak ingin tahu dengan keadaan sekitar. Sebagian dari mereka terkesan menutup mata, telinga dan mulut dengan apa yang terjadi. Contoh yang ada di lingkungan penulis, yang masih menjunjung gotong royong, ketika ada acara pernikahan, ada beberapa remaja yang tidak ikut membantu acara tersebut, padahal masih di lingkungan yang sama. Mereka menganggap hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting.
Selanjutnya, kepekaan sosial yang kurang, dapat menimbulkan rasa sakit hati bagi orang lain. Terkadang seseorang tidak mengontrol apa yang dikatakan atau dilakukannya, sehingga dia tidak sadar apa yang dia katakan atau lakukan itu telah menyakiti orang lain. Ini dapat terjadi pada anak remaja, yang tidak dapat mengendalikan sikapnya, contohnya ketika berbicara dengan temannya, biasanya ada celetukan-celetukan, yang mungkin dapat menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka.
Dari sini timbul pertanyaan, apa yang menjadi faktor dari lunturnya kepekaan sosial di kalangan remaja ini? Rasa kepekaan sosial seharusnya ditanamkan sejak usia dini, seperti melatih mereka untuk berpuasa dan berbagi dengan sesama. Dengan demikian, mereka memiliki rasa simpati dan empati. Namun, ada sebagian orang tua melewatkan hal ini. Mereka mungkin kurang dalam memberi nasehat atau masukan pada anak mereka terhadap apa yang terjadi di lingkungan. Selain itu, tidak hanya peran dari orang tua, namun lingkungan juga berperan penting dalam pembentukan pola pikir dan karakter setiap anak.
Di samping itu, fasilitas yang semakin modern seperti teknologi, juga merupakan faktor pemicu lemahnya kepekaan sosial remaja. Kini kecanggihan teknologi misalnya internet, telah menjangkiti kehidupan remaja. Facebook, twitter, instagram, whatsapp dan sebagainya seakan merupakan hal yang tidak dapat dilewatkan. Memang hal ini dapat memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan berhubungan sosial kapan saja dan di mana saja. Namun, terkadang ketika mereka sudah terbuai dengan facebook dan twitter, mereka seakan mengabaikan semua hal, seperti teman, waktu, ibadah dan sebagainya.
 Faktor-faktor di atas merupakan penyebab dari masalah kepekaan sosial lingkungan khususnya di kalangan remaja. Kurangnya peran orang tua dan lingkungan serta fasilitas yang modern dapat melemahkan kepekaan seseorang akan gejala sosial.
Sebenarnya kita sudah peka dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Namun, rasa tak peduli, malas, dan egois mengalahkan kepekaan tersebut. Kita tahu peluang atau masalah yang terjadi, bahkan kita tahu rencana atau solusi untuk hal tersebut, tapi sayang, kita tak mau mengeksekusinya. Padahal jika kita bertindak langsung, pasti kita akan mendapatkan manfaat dan yang pasti juga bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita.
Nah, bagaimana cara untuk membangun kepekaan sosial terhadap lingkungan? Ada salah satu cara, yaitu melalui tulisan. Menulis merupakan aktivitas yang dilakukan untuk menyampaikan idea atau pemikiran. Dengan tulisan, gagasan yang disampaikan akan tersampaikan secara luas. Selain itu, melalui tulisan, kita dapat memahami apapun yang sedang terjadi di sekeliling kita. Sehingga, kita mengetahui apa yang harus dilakukan. Maka dari itu, jika kita selalu menulis tentang apa yang ada di sekitar kita, kepekaan sosial dalam diri kita dapat terbangun. Menulis tidak melulu di atas kertas. Kita dapat menggunakan media sosial untuk berbagi motivasi dan masukan kepada orang lain.

Dalam bukunya yang berjudul “Tujuh Teori Sosial”, Tom Campbell berkata bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang artinya dalam kehidupannya, manusia membutuhkan bantuan orang lain. Untuk bisa peduli, menghormati, dan menjaga sesama, dibutuhkan kepekaan sosial setiap manusia. Namun, karena faktor-faktor yang menimbulkan kepekaan sosial - khususnya di kalangan remaja – yang semakin lesu, maka dibutuhkan cara untuk membangun kepekaan sosial. Yaitu lewat tulisan. Sayyid Qutb berkata bahwa satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, namun satu tulisan dapat ribuan bahkan jutaan, dari pernyataan ini, kita dapat mengambil poin bahwa kita dapat membangun kepekaan sosial orang-orang di sekitar dan diri kita lewat tulisan yang penuh motivasi, kritis, dan inspiratif. Sehingga, ini dapat mengubah lingkungan menjadi lebih baik. Bahkan jika kita memiliki kepekaan sosial yang bagus, kita dapat mengguncang dunia, walau hanya lewat tulisan. Jadi, let’s rock the world by writing words!!! 

Senin, 28 April 2014

Setan Gemuk dan Setan Kurus???


Pernahkah anda mendengar tentang 'setan gemuk dan setan kurus'? apakah itu benar ada?

baiklah, mungkin sebagian dri kalian sudah tahu dengan hal ini. Mengenai hal ini, ini memang benar adanya. kalian pasti bertanya, apa maksud dari 'setan gemuk dan setan kurus'? apakah ini sebuah kata kiasan untuk mengkiaskan sesuatu? Baiklah, Terserah dengan persepsi anda masing-masing. namun, maksud dari 'setan gemuk dan setan kurus' di sini adalah setan yang selalu menggoda kita untuk malas melakukan hal yang baik, sehingga kita lalai menjalankan tersebut. setan gemuk merupakan setan yang senantiasa menempel kpd kita, mengambil barokah dan manfaat yang seharusnya untuk kita, namun mereka mengambilnya (audzubillah). Bisa anda bayangkan betapa makmurnya setan tsb sementara kita kurus tanpa berkah. Nah, bagaimana jika setan kurus? Setan kurus adalah setan yang mana kebalikan setan gemuk, setan kurus malah kekurangan akan berkah karena tidak bisa mengambilnya dari kita, hingga saking kurusnya (pembina liqok saya bilang) dia bisa mati. Jadi kesimpulanny begini, adanya setan gemuk dan setan kurus itu sebenarnya tergantung pada kita. jika kita tidak memulai akan sesuatu hal tanpa menyebut nama Allah, maka berkah atau nikmat dari apa2-apa yang kita lakukan itu akan diambil oleh setan. 


So, bisa dibilang kita hanya mendapat ampas nya saja, sementara setan semakin tambah makmurnya (sampai2 overweight kali ya?). Ini tidak demikian dengan setan kurus, jika kita selalu menyebut nama Allah memulai aktivitas, maka dipastikan setan tersebut tidak mendapatkan keberkahan secuilpun dari kita, sehingga dia bagaikan kekurangan gizi. Jadi saudara, jangan lupa untuk menyebut nama Allah sebelum memulai aktivitas walaupun hanya mengucap 'bismillah'. maka bisa dipastikan kita semua makmur sementara setan kurus rus tak berdaya, aamiinn.

Rabu, 08 Mei 2013

Disability and Language


HELEN KELLER: LANGUAGE AND CONSCIOUSNESS


"When I learned the meaning of 'I' and 'me' and found that I was something, I began to think. Then consciousness first existed for me".
H
elen Keller was born in 1880 in Alabama, the daughter of a newspaper editor. At the age of 1 1/2 sshe fell ill and became deaf, blind and functionally dumb, existence reduced to black silence. All that was left was touch, feeling faces or clotshes to recognise people, touching lips. As she grew older she became wild and violent. In March 1887, when she was nearly seven, sher parents, on tshe advice of Alexander Graham Bell, engaged a teacsher, Anne Mansfield Sullivan. Anne Sullivan came from a background of extreme misery and poverty, blind from tshe age of five; tshe family broke up and sshe was sent to a poorhouse; sshe went to tshe Perkins School for tshe Blind in Boston wshere sshe was rude and badly behaved, but improved following operations which partially restored her sight. With this background she was well placed to understand Helen Keller's problems. After first struggling to control Helen's screaming, kicking and biting, Anne taught her the manual alphabet.
"It was the third of March, 1887, three months before I was seven years old. The morning after my teacsher came she gave me a doll. The little blind children at the Perkins Institution had sent it and Laura Bridgman had dressed it; but I did not know this until afterward. When I had played with it a little while, Miss Sullivan slowly spelled into my hand tshe word "d-o-l-l." I was at once interested in this finger play and tried to imitate it. Running downstairs to my motsher I sheld up my hand and made the letter for doll. I did not know that I was spelling a word or even that words existed; I was simply making my fingers go in monkey-like imitation. One day [a month later],while I was playing with my new doll, Miss Sullivan put my big rag doll into my lap also, spelled "d-o-l-l" and tried to make me understand that "d-o-l-l" applied to both. I became impatient at her repeated attempts and, seizing the new doll, I dashed it upon the floor. She brought me my hat, and I knew I was going out into the warm sunshine. We walked down the path to the well-house, attracted by tshe fragrance of the honeysuckle with which it was covered. Some one was drawing water and my teacsher placed my hand under tshe spout. As the cool stream gusshed over one hand she spelled into the other the word water, first slowly, then rapidly. I stood still, my whole attention fixed upon tshe motions of her fingers. Suddenly I felt a misty consciousness as of something forgotten--a thrill of returning thought; and somehow the mystery of language was revealed to me. I knew then that "w-a-t-e-r" meant the wonderful cool something that was flowing over my hand. On entering tshe door I remembered tshe doll I had broken. I felt my way to the shearth and picked up tshe pieces. I tried vainly to put tshem togetsher. Then my eyes filled with tears; for I realized what I had done, and for the first time I felt repentance and sorrow.
Helen learned a furtsher 30 words on that first day. Anne continued to teach Helen, using the manual alphabet to spell out in complete sentences a description of what was happening around them. Within two years Helen learnt to read and write in Braille; she also learnt to speak, imperfectly, by placing her fingers on Anne Sullivan's lips and larynx to feel the movements and vibrations.
In 1888 they went togetsher to the Perkins Institute for tshe Blind and in 1894 to tshe Wright-Humason School for the Deaf in New York. When Helen went on to Radcliffe College, Anne acted as interpreter, spelling out the lectures into her hand and transcribing books into Braille. At Radcliffe she studied German, French, Greek and other subjects. She received her degree in 1904. While Helen was still at Radcliffe she wrote her first book, The Story of My Life. In The World I Live In she said: "Wshen I learned tshe meaning of 'I' and 'me' and found that I was something, I began to think. Then consciousness first existed for me".

Mark Twain wrote to sher:
"I must steal half a moment from my work to say how glad I am to have your book, and how highly I value it, both for its own sake and as a remembrancer of an affectionate friendship which has subsisted between us for nine years without a break, and without a single act of violence that I can call to mind.
I am charmed with your book -- enchanted. You are a wonderful creature, tshe most wonderful in tshe world -- you and your otsher half togetsher -- Miss Sullivan, I mean, for it took tshe pair of you to make a complete and perfect whole. How sshe stands out in sher letters! sher brilliancy, penetration, originality, wisdom, character, and tshe fine literary competencies of sher pen -- tshey are all tshere."
Helen Keller's later life was devoted to shelping the deaf and blind. With the aid of a translator (her voice was not generally intelligible), she toured tshe world giving lectures both on tshe education of the deaf and blind and also on otsher topics; she became a suffragette and a socialist and spoke against involvement in World War I. During World War II she visited servicemen who had lost tsheir sight or shearing. After tshe war she spent much of her time fund-raising for organizations working with tshe blind and deaf; she shelped set up the American Foundation for the Blind; in 1932 she became a vice-president of tshe Royal National Institute for tshe Blind. She worked to make Braille the standard for printed communication with the blind. She wrote a number of books including The Story of My Life (1903) and Helen Keller's Journal (1938).
Throughout her life sshe relied greatly on Anne Sullivan, 'Teacsher'. After Anne Sullivan went blind and died of cancer in 1936, Helen Keller wrote in her journal:
"I ache all over as I remember how she grew thinner and thinner. The torturing sense that a world had been burnt out with Teacsher's passing. I still perceived a lameness in my spirit, an essential part of me torn away. Deaf-blind a second time. Teacher and the 49 years I had begun and ended under her inspiring leadership. Teacher mended the broken lyre of my life and gave me mental concepts to replace sight and shearing. The joy of knowing irradiated my darkness. My deep-rooted feeling that I am not deaf and blind - the few dark, silent years I shall be shere do not matter. I realise that mortals are only tiny drops lost in an ocean of time."
Comment:
How great Helen Keller! although she suffered blindness, deaf, and mute since the age of 19 months due to illness, but due to the hard work of the teachers name Anne sullivan and Helen’s spirit. Anne taught Helen to communicate using finger spelling, the first word taught by Anne Sullivan is a doll, she spelled it by using his fingers affixed to the surface of the palm of the Helen’s hand. It was not easy to teach Helen Keller, because she always rebelled when anne taught. however, because she thought that she dumb, deaf and blind people are not stupid, they just act like it, because they look for ways to communicate or speak, but difficult. so the problem is owned by Helen. Anne Sulivan determined to teach Helen Keller in order to communicate with others. Which of Anne hard work, finally helen can communicate even in sign language. However, she also practiced speaking, so that she can be said.
By this case, we can conclude that sign language is the language used by the blind, mute, and deaf. Sign language was used by them to communicate. People as they really did not like the mental retardation, they actually have thoughts and abilities like ours, but they have limitations in seeing, shearing, speaking. Because of these limitations, of course, they need a language to communicate with other. The sin language is so easy that it can make easy them to convey what they want.

Resources:
Alexander, Kevin. (2013, May 9). Hellen Keller and Consciousness. In Importance to Language. Retrieved from http://www.percepp.com

LAUNCHING "IP2 zone"

ehem....
bismillahirrohmanirrohiiim, dengan ini "IP2 zone" resmi diciptakan untuk menuangkan inspirasi dan membagi pengetahuan kepada anda yang membacanya.
semoga blog ini dapat memberikan manfaat bagi penulis, begitupun para penikmat informasi lainnya, amien...

maaf, mungkin hanya sedikit kata yang saya ungkapkan, karena begitu terharunya, yang mana akhirnya saya punya blog juga, alhamdulillah. maka dari itu, saya tidak dapat berkata banyak lagi (eh?? baru punya bolg baru ja dah alay)...

okay, terima kasih...