Akhir-akhir ini, zaman semakin “menggila”.
Sehingga menimbulkan dampak di pelbagai bidang. Di mana dampak ini berpengaruh
pada pola pikir dan pola tindak manusia. Kini pola pikir dan pola tindak
manusia mengalami perubahan yang sangat memprihatinkan. Dahulu kehidupan
bermasyarakat manusia sangat menjunjung tinggi norma dan adat istiadat -seperti
menghormati satu sama lain dan bertoleransi terhadap sesama, namun kini seolah
luntur perlahan-lahan seiring dinamika waktu.
Selain itu, dampak perubahan zaman ini
juga berpengaruh pada pola pikir dan pola tindak lainnya yaitu kepekaan sosial
yang dimiliki oleh setiap orang. Menilik pada kepekaan sosial, ini sangatlah
penting dalam kehidupan manusia. Karena dengan adanya kepekaan ini, mereka
dapat tanggap dan tahu benar dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Di samping itu, ini dapat mempererat hubungan sosial antar sesama. Semisal
gotong royong yang dilakukan warga dalam bekerja bakti, yang mana menunjukkan
rasa kepedulian, yaitu hasil dari rasa peka terhadap lingkungan untuk saling
membantu. Namun, kepekaan sosial kini semakin memudar seiring perubahan zaman.
Banyak faktor pemicu, seperti kemajuan teknologi yang semakin canggih dewasa
ini yang terjadi di kalangan remaja. Padahal dari kalangan remaja inilah, diharapkan
banyak perubahan positif yang terjadi dari hasil pengamatan di lingkungan
mereka.
Dengan kemunculan fenomena lesunya
kepekaan sosial ini, khususnya di kalangan remaja, pasti membuat rindu bagi
orang-orang yang menginginkan rasa kepedulian bersama. Maka dari itu, dalam
esai ini penulis akan mendiskusikan tentang bagaimana membangun kepekaan sosial
di kalangan remaja terhadap lingkungan sekitar.
Mengikuti perkembangan zaman memang
merupakan hal yang lumrah untuk dilakukan saat ini, agar tidak tertinggal oleh
perubahan keadaan yang begitu cepat. Karena detik ini pasti akan berbeda dengan
detik berikutnya. Hal ini menyebabkan banyak orang khususnya remaja,
berlomba-lomba untuk dapat lebih ‘up to
date’. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa apa yang mereka nikmati dari
hasil kemajuan zaman, seperti kecanggihan teknologi, dapat menyebabkan kepekaan
sosial mereka lesu.
Dalam kehidupan sehari-hari, masalah
kepekaan sosial merupakan penyakit masyarakat yang menyebabkan berkurangnya
rasa kepedulian terhadap lingkungan. Bahkan remaja sekarang ini, tidak ingin
tahu dengan keadaan sekitar. Sebagian dari mereka terkesan menutup mata,
telinga dan mulut dengan apa yang terjadi. Contoh yang ada di lingkungan penulis,
yang masih menjunjung gotong royong, ketika ada acara pernikahan, ada beberapa
remaja yang tidak ikut membantu acara tersebut, padahal masih di lingkungan
yang sama. Mereka menganggap hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting.
Selanjutnya, kepekaan sosial yang kurang,
dapat menimbulkan rasa sakit hati bagi orang lain. Terkadang seseorang tidak
mengontrol apa yang dikatakan atau dilakukannya, sehingga dia tidak sadar apa yang
dia katakan atau lakukan itu telah menyakiti orang lain. Ini dapat terjadi pada
anak remaja, yang tidak dapat mengendalikan sikapnya, contohnya ketika
berbicara dengan temannya, biasanya ada celetukan-celetukan, yang mungkin dapat
menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka.
Dari sini timbul pertanyaan, apa yang
menjadi faktor dari lunturnya kepekaan sosial di kalangan remaja ini? Rasa
kepekaan sosial seharusnya ditanamkan sejak usia dini, seperti melatih mereka
untuk berpuasa dan berbagi dengan sesama. Dengan demikian, mereka memiliki rasa
simpati dan empati. Namun, ada sebagian orang tua melewatkan hal ini. Mereka
mungkin kurang dalam memberi nasehat atau masukan pada anak mereka terhadap apa
yang terjadi di lingkungan. Selain itu, tidak hanya peran dari orang tua, namun
lingkungan juga berperan penting dalam pembentukan pola pikir dan karakter
setiap anak.
Di samping itu, fasilitas yang semakin modern
seperti teknologi, juga merupakan faktor pemicu lemahnya kepekaan sosial
remaja. Kini kecanggihan teknologi misalnya internet, telah menjangkiti
kehidupan remaja. Facebook, twitter, instagram, whatsapp dan sebagainya seakan
merupakan hal yang tidak dapat dilewatkan. Memang hal ini dapat memudahkan
mereka untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan berhubungan sosial kapan
saja dan di mana saja. Namun, terkadang ketika mereka sudah terbuai dengan facebook
dan twitter, mereka seakan mengabaikan semua hal, seperti teman, waktu, ibadah
dan sebagainya.
Faktor-faktor
di atas merupakan penyebab dari masalah kepekaan sosial lingkungan khususnya di
kalangan remaja. Kurangnya peran orang tua dan lingkungan serta fasilitas yang modern
dapat melemahkan kepekaan seseorang akan gejala sosial.
Sebenarnya
kita sudah peka dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Namun, rasa tak
peduli, malas, dan egois mengalahkan kepekaan tersebut. Kita tahu peluang atau
masalah yang terjadi, bahkan kita tahu rencana atau solusi untuk hal tersebut,
tapi sayang, kita tak mau mengeksekusinya. Padahal jika kita bertindak
langsung, pasti kita akan mendapatkan manfaat dan yang pasti juga bermanfaat
bagi orang-orang di sekitar kita.
Nah,
bagaimana cara untuk membangun kepekaan sosial terhadap lingkungan? Ada salah
satu cara, yaitu melalui tulisan. Menulis merupakan aktivitas yang dilakukan
untuk menyampaikan idea atau pemikiran. Dengan tulisan, gagasan yang
disampaikan akan tersampaikan secara luas. Selain itu, melalui tulisan, kita
dapat memahami apapun yang sedang terjadi di sekeliling kita. Sehingga, kita
mengetahui apa yang harus dilakukan. Maka dari itu, jika kita selalu menulis
tentang apa yang ada di sekitar kita, kepekaan sosial dalam diri kita dapat
terbangun. Menulis tidak melulu di atas kertas. Kita dapat menggunakan media
sosial untuk berbagi motivasi dan masukan kepada orang lain.
Dalam bukunya yang berjudul “Tujuh Teori
Sosial”, Tom Campbell berkata bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang artinya
dalam kehidupannya, manusia membutuhkan bantuan orang lain. Untuk bisa peduli,
menghormati, dan menjaga sesama, dibutuhkan kepekaan sosial setiap manusia. Namun,
karena faktor-faktor yang menimbulkan kepekaan sosial - khususnya di kalangan
remaja – yang semakin lesu, maka dibutuhkan cara untuk membangun kepekaan
sosial. Yaitu lewat tulisan. Sayyid Qutb berkata bahwa satu peluru hanya dapat
menembus satu kepala, namun satu tulisan dapat ribuan bahkan jutaan, dari
pernyataan ini, kita dapat mengambil poin bahwa kita dapat membangun kepekaan
sosial orang-orang di sekitar dan diri kita lewat tulisan yang penuh motivasi,
kritis, dan inspiratif. Sehingga, ini dapat mengubah lingkungan menjadi lebih
baik. Bahkan jika kita memiliki kepekaan sosial yang bagus, kita dapat
mengguncang dunia, walau hanya lewat tulisan. Jadi, let’s rock the world by writing words!!!
.jpg)
.jpg)